Artikel


SDM : SUSAH DAPAT MANUSIA? 

(?)Tepat setengah tahun saya mulai bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak pada pengembangan sumber daya manusia. Rutinitas yang kami kerjakan adalah hal yang sangat krusial: merekrut sumber daya manusia.
Mengapa krusial? Meskipun kita hidup di era yang serba-mesin dan serba-sistem, kita tetap tidak bisa memungkiri bahwa sumber daya manusia tetaplah hal utama yang dibutuhkan di perusahaan, organisasi, dan instansi manapun.
Selama melakukan rutinitas recruiting process, saya telah merasakan masalah mendasar yang terjadi di lingkungan per-sumberdayamanusia-an Indonesia: betapa sulitnya mengaplikasikan azas utama SDM “the right man in the right place at the right time”.
Kami adalah vendor yang menguji kandidat “setengah matang”, yang diajukan oleh sebuah perusahan untuk melakukan psikotest & wawancara bagi kandidatnya. Yang saya maksud setengah matang adalah perusahaan tersebut memberikan kami calon kandidat beserta posisi yang akan dituju, sehingga kami hanya melakukan analisa, apakah kandidat tersebut cocok pada (dan hanya pada) posisi itu. Jika cocok, maka matanglah proses si kandidat menjadi karyawan.
Dan apa yang saya temukan?
Cukup banyak kandidat yang cenderung kurang tepat untuk posisi yang dituju. Contohnya, kandidat yang telah melakukan psikotest menunjukkan hasil bahwa ia memiliki kemampuan menonjol dalam ketelitian, kerapihan, dan sistematika kerja, namun posisi yang dituju adalah sales/marketing, dengan modal komunikasi yang biasa dan kemampuan persuasi yang kurang memadai. Tanpa Anda bersekolah psikologi pun, mungkin Anda memiliki pemahaman yang sama dengan saya, “kenapa jadi sales sih, lebih cocok jadi admin”
Temuan lainnya,
Ada juga kandidat yang memang tidak memiliki hal yang menonjol sama sekali. Padahal ia memahami dengan jelas posisi apa yang ia tuju. Kandidat seperti ini, menjadi baik apabila ia memiliki kemauan belajar atas hal-hal baru, namun ia pun tidak memiliki hal tersebut, justru cenderung melakukan defense. Hingga tidak jarang pada sesi wawancara saya justru memberikan nasihat-nasihat simple (karena kandidat seperti ini, kalau tidak menganggur lama, ya pindah-pindah perusahaan dalam waktu singkat).
Tidak sedikit pula kandidat yang berasal dari suatu jurusan dan masuk ke ranah pekerjaan dimana pendidikannya cenderung tidak digunakan. Alasan mereka cenderung sama “yah mau gimana lagi? rezekinya disitu, mbak”. Pun kandidat yang berasal dari universitas-universitas negeri terkemuka (yang salah satunya yang menolak saya :P), mereka mengeluh karena telah menganggur sekian lama.
Weleh, bisa dibayangkan jika 50% saja usia produktif di Indonesia mengalami hal semacam ini, akan mubazir sekali energi, tenaga, dan keuangan perusahaan-perusahaan. Dan apabila ditarik pertanyaan ‘mengapa’, akan terlihat bahwa banyak ranah yang harus dipertanyakan, dari sistem pendidikan, sistem perekrutan karyawan, budaya ‘jurusan/universitas populer’, hingga pola asuh orang tua.
Kemudian, apa yang dapat diperbuat? Apakah kondisinya benar-benar seburuk itu?
Temuan saya yang lainnya adalah mengenai kandidat-kandidat yang ‘lolos’ a.k.a kami rekomendasikan untuk suatu posisi, dimana artinya mereka adalah right man on the right place. Mereka adalah orang-orang yang cenderung telah memahami sejak awal, hobi atau passion atau cita-cita mereka. Hingga mereka dapat masuk ke jurusan yang tepat (baik pada saat SMK, diploma, maupun strata) dan bekerja dengan baik dan profesional saat mereka berada pada posisi itu. Mereka bekerja sesuai dengan harapan mereka, dan mereka dibayar atas kesenangan mereka.
Ini yang menurut saya perlu ditingkatkan di dalam masyarakat: pemahaman dan visi yang baik atas apa yang mereka senangi dan yang ingin mereka kerjakan, dan ini perlu dibangun semenjak dini. Memang banyak pula yang ‘salah jurusan’, namun akhirnya menemukan passion mereka setelah bekerja disana sini. Well, ini juga tidak menjadi permasalahan karena ‘semenjak dini’-nya setiap orang memang berbeda-beda, meskipun tidak efektif karena cenderung buang-buang waktu, materi, dan tenaga.
Ini bukan hal mudah, tapi jelas bisa diusahakan. Saya contohnya. Saya sudah menyukai bidang psikologi, sejak SMP, dan saya sudah mengatakan kepada orang tua saya mengenai hal ini. Dini sekali bukan? Tetapi orang tua saya mengarahkan saya untuk ke jurusan lain, yang mungkin, menurut mereka akan lebih ‘membenahi keturunan’ hehe. Syukurlah, dengan usaha di detik-detik terakhir, Allah masih menyayangi saya dan saya ditakdirkan kembali ke jalan yang saya sukai dan inginkan, meskipun dengan proses jatuh bangun yang cukup memakan waktu :))
Pada intinya, saya ingin menekankan bahwa bekerja sesuai dengan passion kita akan sangat mempermudah kelancaran karir Anda. Anda menyenangi apa yang Anda kerjakan dan dibayar atas hal itu, sounds good, right? Dan hal ini menjadi win-win solution, perusahaan akan puas karena Anda menunjukkan kinerja yang baik dan Anda akan puas karena Anda bekerja atas apa yang Anda senangi.
Bagaimana jika Anda sudah berusaha mencari pekerjaan yang sesuai dengan jurusan tapi tidak pernah diterima oleh perusahaan, dan Anda merasa bahwa Anda sudah merasa passion dengan jurusan/pekerjaan itu?
Hmmm, bisa jadi motivasi internal yang Anda bangun cenderung kurang tepat, mungkin Anda cenderung hanya mengandalkan satu sisi dari jurusan Anda, misalnya “saya pilih jurusan ini karena rata-rata jurusan ini bisa dapet duit yang banyak—kalau istiqomah sih”. Hal ini tidak akan menjadi masalah apabila Anda gunakan hal tersebut untuk bekerja dengan lebih giat, tapi jika tidak, maka ubahlah motivasi internal Anda.
Atau.. bisa jadi, sebenarnya Anda tidak se-passion itu. Tau dari mana sih passion? Harus test psikologi kah? Bukan saya ingin mengurangi rezeki biro psikologi tongue emotikon, tapi, sejujurnya Anda hanya perlu meningkatkan awareness dan memperluas pengalaman Anda. Ikutlah banyak kegiatan yang sekiranya dapat memfasilitasi pemahaman Anda mengenai ‘seperti apa diri saya’ dan ‘apa yang sebenarnya saya sukai’.
Jika tidaaaaak, mungkin memang Anda selalu setengah-setengah mengerjakan sesuatu, tidak tekun, tidak memahami bahwa semua hal membutuhkan proses yang tidak sebentar dan tidak mudah, sehingga cenderung mudah bosan dan akhirnya ‘merasa tidak passion’ tongue emotikonSemarang, 15 April 2016-
Human capital Development
PT. Bedah Jiwa Management
Lembaga Psikologi Yang Profesional dan Dikagumi